Long Distance Marriage Life (Part 2)

Melanjutkan tulisan sebelumnya, Long Distance Marriage Life (Part 1)

Bulan-bulan pertama LDM, aku seringkali menyalahkan diriku sendiri yang gagal memiliki IELTS dengan score mencukupi sehingga tidak bisa segera mendaftar beasiswa luar negeri di tahun itu, yang artinya akan lebih lama pula waktu yang dibutuhkan untuk bisa menyusulnya. Namun, semakin lama berpikir seperti itu, malah semakin sakit rasanya dan aku pun mulai sadar ini adalah jalan yang Allah tentukan, pasti ada yang ingin Dia sampaikan dari kejadian ini. Akhirnya, dengan terus berpikir positif, aku pun bangkit dan berusaha belajar kembali untuk tes IELTS yang kedua. Cerita lengkap perjuangan IELTS klik di sini.

Sungguh bukan perjalanan yang singkat karena waktu terasa sangat lama, apalagi sambil belajar IELTS yang membosankan dan curi-curian dengan waktu Fatiha tidur. Banyak cara yang kubuat agar motivasi dan pikiran positif terus ada di kepala, seperti menuliskan target dan kata-kata penyemangat di setiap sudut kamar, bahkan aku juga mengatur jadwal harian dengan sangat detail agar jangan sampai ada sedikit waktu pun yang disia-siakan. Alhamdulillah, hardwork will never betray, bulan Februari 2018 sertifikat IELTS dengan score yang cukup sudah dalam genggaman. Maka langkah selanjutnya adalah mengejar LoA kampus yang sama atau dekat dengan suami.

Ternyata proses untuk memperoleh LoA kampus Australia mudah jika sudah memiliki semua persyaratannya. Tidak berapa lama setelah tes IELTS, aku pun sudah menerima LoA dari The University of Queensland dalam program Master of Economics and Public Policy. Maka tahap selanjutnya adalah yang paling berat, yaitu mencari beasiswa luar negeri!

Ada tiga beasiswa yang bisa membawaku ke Australia, yaitu Australia Awards Scholarship (AAS), Endeavour, dan LPDP Luar Negeri. Sebagai ikhtiar terbaik, aku akan mengusahakan semaksimal mungkin untuk berkompetisi memperebutkan beasiswa ini. Namun, jika jawabannya bukan untukku, aku pun sudah mempersiapkan mental. Bulan Februari lalu, beasiswa AAS sudah dibuka dan hasilnya belum rezeki untukku. Plan A sampai Z sudah kurancang bersama suami, dari kemungkinan terbaik hingga terburuk, namun plan apapun itu, kita sepakat bahwa itu adalah jalan terbaik dari takdir-Nya. Hingga tulisan ini dibuat, pencarian beasiswa ini masih berproses.

Di bawah derasnya hujan yang mengguyur malam ini, selalu ada doa yang mengikat hati dua jiwa yang terpisah oleh jarak. Agar derasnya ujian, terpaan angin cobaan, dan dinginnya kesendirian tidak mengaburkan mimpi kami untuk kembali menjadi keluarga yang utuh dan tidak akan berhasil menggoyahkan arah tujuan bahtera yang kami naiki bersama.

Beberapa tips menjalani LDM dari saya:

  1. Sepakati kapan akan bertemu rutin dan kapan akan berakhir LDM
  2. Selalu menghargai perasaan pasangan (misal selalu pakai cincin kawin, dan tidak terlalu dekat dengan lawan jenis)
  3. Hindari konflik yang muncul karena mis-komunikasi, kabari kondisi secara rutin dan agendakan telepon/video call setiap harinya
  4. Kuatkan iman, jauhkan godaan, isi waktu luang dengan kegiatan positif jangan sampai kosong.
  5. Selalu mendoakan kebaikan pasangan dan keutuhan keluarga

 

 

Advertisements

Long Distance Marriage Life (Part 1)

“Kadang kala kita harus berterima kasih pad jarak, karena ia, kita menjadi belajar memaknai kata rindu dan menghargai keberadaan seseorang yang berharga untuk kita..”

Aku selalu ingat, hari itu adalah 18 September 2017, ketika Fatiha yang berusia 8 bulan dan baru berhasil belajar duduk harus berpisah dengan bapaknya yang akan berangkat lebih dulu ke negeri seberang, Australia. Rasanya biasa saja, tidak ada air mata melepasnya pergi. Kami hanya mengantarnya sampai depan rumah, tidak sampai ke bandara jadi rasanya hanya seperti melepasnya berangkat keluar kota untuk beberapa hari seperti yang biasa ia lakukan. Namun, setelah ia benar-benar menaiki mobil, melambaikan tangan, dan akhirnya meninggalkan rumah, tiba-tiba aku harus berlari bersembunyi ke kamar. Membiarkan air mataku yang tiba-tiba tidak bisa ditahan lagi alirannya. Sore itu, baru kusadari kalau kamarku yang tidak seberapa luas ini, menjadi terasa ada yang kurang. Sprei kasur menjadi selalu rapi simetris, ketika ia yang selalu duduk di pojok kasur untuk laptopan tidak ada lagi. Tidak ada lagi kerepotan menyiapkan sarapan di pagi hari untuk seseorang. Tidak ada pula lagi lelaki muhrim yang akan mengantarku dengan sepeda motor tua kemana-mana sambil kupeluk pinggangnya. Sejak hari itu, ada kehangatan yang hilang dari dinding kamar, ruangan ini terasa dingin dalam arti sebenarnya.

Enam bulan pertama merupakan masa-masa yang berat. Orang tuaku memperingatiku untuk waspada ketika LDM dengan menceritakan kisah-kisah seram LDM, seperti teman lama mereka yang baru LDM sebulan ternyata sudah terbawa arus budaya barat dan menikah siri dengan perempuan lain, dsb. Ini jelas membuatku panik, apakah mungkin seorang Rischan akan berubah seperti itu setelah satu tahun kita berpisah? Apakah aku benar-benar akan masih mengenal kepribadian seorang Rischan ataukah ia akan menjadi orang yang berbeda seiring berjalannya waktu? Di titik itu, banyak keraguan menyelimuti pikiranku. Tentu akan ada banyak hal yang Rischan alami di sana, ketika aku tidak bersamanya. Namun, semakin hari berlalu, ia menunjukkan jika Rischan tetaplah dirinya yang memiliki karakter yang kuat dan agamanya yang baik. Melalui diskusi-diskusi malam melalui video call, ia menunjukkan bahwa ia menjadi seorang yang bahkan lebih mendewasa dan bijaksana di rantau sana. Satu hal yang kusyukuri, doa-doaku sepanjang malam ternyata dikabulkan, Allah benar-benar melindungi Rischan bahkan meng-upgrade-nya menjadi pribadi yang lebih baik dan semakin sayang kepada keluarganya.

Maka, dimulailah kehidupan adaptasiku mengurusi bayi tanpa suami. Aku memang tinggal di rumah orang tua, namun itu tidak berarti ada yang membantu dalam pengasuhan karena orang tuaku adalah tipikal pekerja penuh dan sibuk di luar. Aku mulai memutar otak mencari cara terbaik untuk belanja bulanan sambil membawa bayi, mengikuti acara-acara di luar, hingga melakukan perjalanan jauh seperti mudik. Memang melelahkan awalnya, ketika aku harus menggendong bayi sambil membawa tas bayi besar di punggung dan pergi kemana-mana sendirian. Fatiha yang masih bayi kadang takut untuk naik kereta belanja, sehingga harus terus kugendong selama berbelanja.

Pernah suatu kali, aku mendapat undangan mengisi acara kajian muslimah di Asrama PPKU (mahasiswa tingkat pertama) IPB, waktu itu karena tidak kunjung mendapat kendaraan online, aku akhirnya naik angkot dan membelah kemacetan yang sudah melegenda di Jalan Raya Dramaga di terik siang hari itu. Untuk masuk ke dalam kampus, karena Asrama cukup jauh dari depan jika jalan kaki sambil membawa bayi dan motor panitia yang menjemput tidak kunjung muncul karena tidak ada sinyal, akhirnya aku menaiki ojek. Dimulailah dialog percakapan bikin aku tertawa beberapa hari ke depan dengan abang ojek:

Ojek      : Ojek, neng..

Aku        : Ke Asrama PPKU berapa pak?

Ojek      : 5ribu aja neng.

Aku        : Oke.

Ojek      : (setelah jalan, ia bertanya, mungkin daritadi ia sedang berpikir keras) “Neng, itu adeknya apa anaknya yg dibawa? Kok ke asrama bawa bayi..”

Aku        : “Hah? Bukan pak, ini anak saya. Saya bukan mahasiswa PPKU. Saya mau isi acara di asrama..”

Ojek      : “ooh kirain..”

Mungkin abang ojek itu sangat berbaik-sangka, karena peraturan asrama, mahasiwa PPKU memang tidak diperbolehkan hamil dan memiliki anak, jadi kemungkinan itu adalah adiknya hehehe. Singkat cerita, akhirnya aku mengisi acara kajian muslimah dan adikku, Aisyah yang tingkat 2 di IPB, menjaga Fatiha selagi aku berbicara di depan.

Banyak yang bertanya, kenapa tidak langsung bawa keluarga saja? Mengapa harus LDM sampai satu tahun? Atau mungkin mengapa tidak sebulan sekali saja suami ke Indonesia? Toh Australia dekat, tiketnya pasti murah. Begini penjelasan kondisinya, Rischan kuliah S3 dengan beasiswa LPDP. Berdasarkan peraturan LPDP, mereka menyediakan family allowance di tahun kedua masa studi. Sehingga, jika ingin langsung membawa keluarga di tahun pertama, maka harus menggunakan dana pribadi. Namun, permasalahan lainnya adalah Asuransi. Australia menetapkan OSHC (Overseas Student Health Cover) bagi mahasiswa yang jumlahnya tergantung berapa lama akan tinggal. Untuk keluarga dengan istri dan satu anak selama 4 tahun, jumlahnya sekitar Rp 150 juta yang harus lunas sebelum membuat visa dan non-refundable yang artinya tidak akan dikembalikan. Jumlah tersebut belum termasuk tiket, tempat tinggal, dan biaya hidup yang nilainya juga melangit bagi kami. Beberapa teman awardee LPDP yang membawa langsung keluarganya, mereka biasanya menjual mobil dan aset di Indonesia dulu sebelum pindah ke Australia. Akhirnya yang bisa kami lakukan adalah bersabar selama satu tahun ini, sambil menabung dan mencari beasiswa agar aku bisa sambil S2 ketika menyusul suami.

(Bersambung)

Melahirkan Normal dengan Minus Tinggi

Sejak masa ta’aruf dulu, aku sudah pernah membahas dengan calon suami terkait mataku yang minusnya tinggi. Bukan main, minusku ini setiap tahun terus bertambah. Sejak kelas 5 SD minus 2, seingatku SMA minusku masih 7, saat kuliah naik jadi 9, hingga sekarang ternyata sudah mencapai 11. Jujur saja, aku kurang suka membahas topik ini dan mungkin ini tulisan pertama aku membuka penyakit yang sering kututupi ini. Aku sempat memakai softlense 6 tahun (sejak SMA-kuliah) sehingga tidak banyak yang tahu kalau sebenarnya aku berkacamata tebal. Riwayat penyakit memang salah satu yang krusial untuk dibahas dalam ta’aruf. Hal ini dikhawatirkan akan menimbulkan risiko untuk melahirkan secara normal/spontan dan akan berdampak lebih lanjut pada jumlah keturunan jika harus  melalui operasi caesar. Namun, sang calon suami tidak begitu percaya bahwa hal tersebut saling berkaitan berdasarkan publikasi dan jurnal ilmiah yang pernah ia baca dan ia tetap optimis ingin memiliki keturunan yang banyak dan berkualitas. (aamiiin)

Akhirnya momen ini datang juga, ketika aku dihadapkan dengan trimester tiga di kehamilan pertamaku. Besar sekali kekhawatiran kami untuk bisa melahirkan secara normal. Dokter langgananku adalah dr. Dian Ambarwati, Sp.OG di RSIA Ummi, dia percaya bahwa aku masih ada harapan melahirkan normal dengan syarat surat izin dari dokter mata, ia segera menyarankanku untuk memeriksakan kondisi syaraf mata ke dokter spesialis mata. Kami memilih dr. Dian Mustikawati Sp.M di RS Melania untuk memeriksakan mataku. Pilihan ini tidak berdasarkan rekomendasi siapa pun, kami hanya memilih dokter yang sesuai dengan jadwal kami saja.

Proses pemeriksaan syaraf mata ternyata tidak sebentar. Pertama, dia mengecek minus mataku dengan mesin digital yang mengeluarkan secarik kertas (mirip struk) bertuliskan bahwa miopiku sudah mencapai -11. Kemudian perawat meneteskan suatu obat setiap 15 menit yang akan membuat lensa mataku kaku sehingga lama kelamaan aku tidak bisa melihat dengan jelas jarak jauh. Ini diperlukan agar ketika syaraf mata sedang diperiksa, ia tidak banyak bergerak. Kemudian aku dipanggil masuk ke ruangan dokter, tentu ditemani suami. Kemudian perawat mematikan lampu sehingga semua gelap kecuali sebuah senter besar di kepala sang dokter. Aku diminta untuk menggerakkan mataku sesuai arah yang ia tunjuk, sembari ia melihat ke dalam bola mataku dengan senternya. Aku tidak begitu faham dengan apa yang dilakukan dokter sehingga akhirnya bisa melihat syaraf di dalam bola mata, tapi akhirnya dokter memberikan selembar surat keterangan bahwa aku diperbolehkan untuk melahirkan secara normal karena tidak ada kelainan dalam syaraf mataku. Bukan main leganya hati kami saat mendapatkan surat keterangan tersebut!

Beberapa hari setelahnya, kami  berkunjung ke dr. Astri Susanti, Sp.OG untuk menunjukkan surat izin tersebut. Namun, ia memberikan surat rekomendasi untuk periksa mata kembali dengan dokter mata di RSIA Ummi, hal ini juga perlu agar menjadi second opinion. Akhirnya kami pun mendaftar untuk periksa mata dengan dr. Mustafa Kamil Shahab, Sp.M di RSIA Ummi. Dokter ini terlihat sudah sangat senior, antrian pasiennya pun sangat panjang. Kami menunggu hampir setengah hari untuk akhirnya masuk ke ruang praktiknya. Respon yang diberikan ternyata berbeda dengan dokter mata sebelumnya. Ia hanya melihat dengan alat pembesar kondisi fisik dan general mataku. Kemudian menanyakan berapa minusku, dan langsung memberi rekomendasi untuk melahirkan dengan operasi caesar. Tidak sampai 10 menit, kami sudah keluar dari ruang praktiknya dengan kaki lemas..

Hari pun berlalu, janin semakin matang dan besar ketika memasuki HPL (Hari Perkiraan Lahir). Aku belum mau memutuskan untuk membuat jadwal operasi di rumah sakit. dr. Dian terus memantau kondisi janinku melalui USG setiap tiga hari, memastikan tidak ada pengapuran pada ketuban karena aku melewati HPL, namun ia tidak bersedia menangani jika aku memilih melahirkan nomal. Aku masih percaya diri bisa melahirkan secara normal, melihat kondisi janin yang baik, posisi sudah masuk panggul sejak beberapa minggu sebelumnya.

Akhirnya, berbekal surat izin dokter mata dan second opinion dari satu dokter kandungan lain, aku mantap untuk melanjutkan ikhtiarku melahirkan normal, dengan mempersiapkan kelahiran bayiku di Bidan Srie Doddy. Bidan ini dipilih karena banyaknya rekomendasi yang masuk. Aku juga telah mengikuti senam hamil di bidan ini sejak usia kandungan 8 bulan, bidan di sini sangat senior. Mereka bersedia menangani proses melahirkan dengan kondisi mataku ini. Berkali-kali aku bertanya, apakah benar aku bisa melahirkan normal, mereka terus menenangkanku dan meyakinkan bahwa mereka sudah pernah menghadapi kasus sepertiku. Bidan memberiku briefing untuk tetap membuka mata ketika mengejan, rileks, dan konsentrasi agar proses berlangsung dengan singkat.

Di hari-hari setelah melewati HPL, aku berusaha sekuat tenaga agar bisa segera melahirkan sebelum bayi semakin membesar. Aku rutin berjalan kaki setengah jam pagi dan sore hari, naik dan turun tangga, hingga makan buah nanas langsung dua bonggol. Di malam-malam kami berdoa agar diberikan jalan terbaik untuk kelahiran anak kami. Saat itu aku sudah menyiapkan mental, apapun jalannya, caesar ataupun normal, insya Allah aku sudah siap untuk berjihad. Kami tidak akan nekat atau memaksakan kehendak, hanya meminta yang terbaik untuk ibu dan anak.

Akhirnya di setelah empat hari melewati HPL (40w4d), pagi harinya muncul bloody show, menandakan kelahiran tidak akan lama lagi. Ketika maghrib menjelang, aku mulai merasa mulas, rasanya ingin duduk lama-lama saja di toilet, tapi akhirnya aku masih bisa melaksanakan shalat. Namun, menjelang isya, ketika akan mengambilkan makan untuk suami di ruang makan, tiba-tiba ada air bening mengalir di kakiku sampai ke lantai. Kakakku yang mengetahuinya langsung panik dan menyuruhku segera berbaring agar ketuban tidak terus megalir, hingga semua siap untuk berangkat ke bidan. Pukul 20.00 aku menelpon bidan setelah memastikan kontraksi teratur setiap tiga menit sekali. Akhirnya, dengan diantar mobil oleh kedua orang tuaku dan suamiku mengendarai motor, kami sampai di bidan Srie Doddy. Kebetulan Bidan Srie Doddy-nya langsung yang sedang praktik malam itu, sebelumnya aku belum pernah bertemu beliau. Bidan langsung mengecek dengan kertas lakmus untuk memastikan bahwa ketuban telah benar pecah dan ternyata sudah pembukaan 4. Ia memperkirakan bayi akan lahir esok subuh mengingat ini adalah anak pertama.

Aku diantar ke kamar untuk menginap dan hanya bisa didampingi satu orang, yaitu suami. Orang tuaku pun pulang lebih dulu dan menunggu kabar via grup whatsapp. Dimulailah detik-detik kontraksi yang menyakitkan, aku diminta untuk tidur saja dan menikmati kontraksi sambil tidur miring, namun tidak bisa tidur sama sekali. Tiap kontraksi datang, suami terus mentalqin di telingaku agar bukan teriakan yang keluar, namun dzikir. Ketika kontraksi hilang, suami terus menyuapiku kurma dan teh manis agar kuat kembali. Rasanya kalau melahirkan esok pagi aku sudah tidak kuat lagi, ingin pingsan dan lemas karena belum sempat makan sejak siang tadi.

Pukul 22.00 aku merasa benar-benar ingin ke toilet, aku langsung turun dari kasur dan jalan sendiri mencari toilet. Suami panik memanggil bidan karena aku berjalan dengan jejak darah di belakangku. Akhirnya asisten bidan membawaku ke ruang bersalin dan ternyata pembukaan sudah lengkap! Artinya aku sudah boleh mulai mengejan. Bidan Srie Doddy cukup terkejut mengetahui pembukaan yang sangat cepat. Ia memberi arahan untuk mengejan ketika kontraksi datang.

Pukul 22.30 alhamdulillah lahirlah putri pertama kami yang bernama Fatiha Firdausi Mafrur dengan berat 3,7kg. Setelah dilakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini), Fatiha dibersihkan dan diadzankan. Suami diam-diam sujud syukur di luar ruang bersalin. Perasaan yang sangat lega dan luar biasa bahagia karena Allah izinkan kemudahan dalam proses persalinan ini. Alhamdulillah.

***

Bidan: Ayok kita selfie dulu! (cekrek).. Gimana? Matanya gak kenapa-napa kan? (sambil nyengir)

Aku : iyaa

Suami : masih bisa lihat Mas kan??

Aku : iyaa

Bidan : itu matanya kenapa?

Aku : hehe ini mah emang lagi bintitan aja (gubrag)

 

-end-

Di Sudut Penjara

Tahun 2008 di Lapas Paledang Bogor.

Di sudut penjara, terlihat seorang remaja tanggung duduk meringkuk. Tidak lama, seorang pria paruh baya memasuki ruang jeruji yang sama. Tersiar kabar bahwa fitnah di politik dengan tuduhan korupsi uang negara yang membawa pria tersebut ke tempat suram ini, terpaksa berpisah atap untuk beberapa waktu ke depan dengan anak dan istrinya di rumah, dan takdir membawanya untuk bertemu dengan remaja tersebut.

“Hai dik, kamu masih sekolah?” sapa pria itu.

“Iya pak, saya sekolah di SMA*** Bogor,” jawab remaja tersebut.

“Kok bisa di sini?”

“Kemarin ketangkep karena ikut tawuran..”

Obrolan mereka pun berlanjut tentang tempat tinggal, orang tua, latar belakang keluarga, dsb. Terakhir diketahui anak itu berasal dari keluarga tidak mampu, tinggal di salah satu perkampungan di daerah Bogor Selatan.

“Kok kamu bisa sekolah sampai SMA? Siapa yang bayarin?”

“Ada pak, orang baik banget.. Bayarin saya sekolah sampe sekarang ini.”

“Siapa itu?”

“Namanya Bu Hasim. Tiap jumat saya ke rumahnya untuk dapat uang saku.”

Nama itu sungguh tidak asing di telinga pria tersebut. Dia sangat kenal dengan ‘orang baik’ itu. Seketika pria itu naik pitam karena ia tahu benar kebaikan ibu yang remaja itu maksud, dan menurutnya sungguh tidak pantas anak ini menyia-nyiakannya. Berkali-kali ia istighfar dalam hati. Mengapa ia bisa bertemu dengan anak ini di sini. Bagaimana perasaan Bu Hasim kalau tahu anak yang selama ini dia beri beasiswa pribadi itu punya perangai begitu buruk?

 


9 tahun berlalu sejak wafatnya drh. Lestari Utami. 10 tahun berlalu sejak kejadian itu. Sang remaja kini telah berhasil lulus sarjana dan mendapat pekerjaan yang baik. Sang pria divonis bebas murni karena tidak terbukti bersalah oleh pengadilan.

Ya, beliau yang dimaksud Bu Hasim oleh remaja 10 tahun yang lalu dalam penjara itu adalah ibuku. Aku, sebagai salah satu dari 8 putranya, sangat tahu siapa saja orang yang datang ke rumah, mendapatkan sedekah beasiswa dari dompet pribadi ibu yang tidak tebal. Cerita 10 tahun itu akhirnya sampai di telingaku dan aku bersyukur karena cerita ini tidak pernah sampai pada ibu. Entah apa yang ibu pikirkan jika mengetahui kejadian itu.

 


Demikian hal yang mungkin serupa telah dikisahkan dalam Al-Quran, ketika Aisyah binti Abu Bakar mendapat fitnah yang keji dari Mistah Ibnu Asasah hingga turun ayat QS. An-Nuur:11-20. Mengetahui perbuatan keji Mistah yang memfitnah putrinya, Abu Bakar mengatakan, “Demi Allah, aku tidak akan memberinya lagi nafkah barang sedikit pun selama-lamanya sesudah apa yang ia katakan terhadap Aisyah.”

Maka Allah Swt. menurunkan firman-Nya:

{وَلا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ}

Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kalian bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya). (An-Nur: 22)

sampai dengan firman Allah Swt.:

{أَلا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ}

Apakah kalian tidak ingin bahwa Allah mengampuni kalian? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (An-Nur: 22)

Maka Abu Bakar berkata, “Tidak, demi Allah, sesungguhnya kini aku suka bila diampuni oleh Allah.” Maka ia kembali memberikan nafkahnya kepada Mistah sebagaimana biasanya. Dan Abu Bakar berkata, “Demi Allah, aku tidak akan mencabut nafkahku (kepadanya) untuk selama-lamanya.”

 


Dalam hati takjub dengan kisah nyata yang kutemukan sendiri. Banyak hal yang Allah tutupi pengetahuan kita demi kebaikan kita. Seandainya kita tahu betapa besar cinta-Nya untuk kita, tentu akan menangis mata ini setiap mengingat-Nya. Dari kisah ini aku belajar, bahwa amal kebaikan kita tidak perlu dipengaruhi oleh keburukan yang seseorang lakukan pada kita. Pun ketika kita mendapat kejahatan dari orang lain, Allah bahkan memerintahkan untuk membalasnya dengan yang ‘lebih baik lagi.’

ٱدْفَعْ بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُۥ عَدَٰوَةٌ كَأَنَّهُۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ

Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia” (QS. Fushilat : 34)

 

KISAH PERJUANGAN IELTS SAMBIL MENGURUS BAYI DAN TANPA LES! (End)

Melanjutkan cerita sebelumnya

Sejujurnya sejak kejadian gagal di Speaking itu ternyata memberikan tidak sedikit trauma di lidahku. Setiap aku berusaha latihan speaking dan menyalakan recorder di HP atau menyalakan kamera laptop untuk merekam tiba-tiba lidahku kelu, vocab beterbangan di atas kepalaku. Rasa grogi di hari itu ternyata ga semudah itu hilang dari ingatanku. Haha ini konyol sih tapi nyata.

Tapi memang Allah selalu punya rencana terbaik, suatu hari ada sebuah pesan di Whatsapp masuk dari dosen S1 ku, beliau menanyakan kesediaanku untuk menjadi MC dalam sebuah Studium Generale untuk dosen tamu dari kerajaan Arab Saudi. Jadi full english mandu acara. Gak tanggung-tanggung, acaranya besok lusa jadi gak banyak bisa persiapan. Akhirnya aku dengan persiapan seadanya mengambil kesempatan itu. Singkat cerita, Alhamdulillah ternyata aku masih bisa ngomong bahasa inggris hahaa. Acara berjalan lancar, beberapa peserta yang hadir bahkan menghubungiku menanyakan apakah bisa menjadi MC di acara mereka wkwkw. Meskipun hari itu hanya diupah snack kotak, tapi acara itu sungguh sangat berharga buatku. Sejak saat itu, confidence ku mulai bangkit dan aku mulai bisa bicara di depan recorder.

Selain itu, karena bahan buku sudah habis semua untuk belajar di IELTS pertamaku, aku sekarang mencoba practice test online. Ada beberapa website favoritku dan berikut adalah reviewnya:

  1. ieltsonlinetests.com : ini web user friendly banget dibandingin semua website yang pernah kukerjain tesnya. Dia punya beberapa jenis test (Mock Test, Recent Actual Test, Practice Test, dsb) kalian akan mengerti perbedaannya jika sudah mencobanya hehe. Paling sering ngerjain Listening dan Reading di sini. Tersedia answer pallette, space buat ngotret, timer nya selalu terlihat, dan yang paling penting kunci jawaban dan pembahasannya sangat lengkap dan baik.
  2. ieltsliz.com : Liz adalah seorang pengajar IELTS native yang cara bicara dan mengajarnya sangat enak didengar dan mudah dipahami buat para pembelajar british accent. Suami mengunduh puluhan video teaching nya dari Youtube. Belajar di Liz gabisa dadakan, karena belajar di web dia itu khusus buat ‘belajar’ bukan ‘latihan’. Semua videonya bermanfaat, web nya juga menyediakan beberapa kuis yang bisa menambah vocab dan latihan. Web ini sangat recomended karena punya bahan ajar yang lengkap. Rasanya kalo udah ketemu web ini beneran gak perlu les les lagi hehe.

Akhirnya 3 Februari 2018 pun tiba, ujian IELTS yang diadakan langsung oleh IALF (tidak lagi bekerja sama dengan ILP Bogor) berlangung di Gedung BLST IPB, Taman Kencana. Sejak malam kami sudah mendapat email untuk mempersiapkan ujian dan meminta kami untuk sudah hadir di tempat ujian pukul 7.30. Pagi itu ternyata hujan turun deraas sekali. Aplikasi grab sibuk dan aku tidak kunjung mendapat driver. Pukul 7.20 akhirnya aku baru berangkat dari rumah, diantar oleh adikku dengan jas hujan dan bekal sepatu, jaket, dan kaus kaki ganti untuk mengantisipasi pakaian basah dan kedinginan di ruang ujian yang ber AC. Terima kasih banyak adik-adikku yang membantu keriweuhanku pagi itu. Aku sampai di lokasi tepat waktu karena jarak yang tidak begitu jauh. Namun, ternyata mobil panitia penyelenggara ujian yang datang dari Jakarta terlambat 1 jam sehingga ujian pun delay.

Ini lumayan fatal karena ujian mulai pukul 9 dan seharusnya berakhir waktu Dzuhur. Namun karena delay 1 jam, ujian baru selesai pukul 1 siang dan peserta mengerjakan ujian dengan perut yang sudah mulai lapar karena memasuki waktu jam makan siang. Aku hampir yakin ini sedikit banyak akan mengganggu konsentrasi peserta ujian (apa aku doang ya hahaha). Berbekal pengalaman konyol di ujian sebelumnya, aku membawa sebatang coklat dan botol minum kecil selama menunggu ujian dimulai. Aku memakan sedikit demi sedikit untuk menghindari lapar dan hanya minum satu teguk air sebelum ujian agar tidak ke toilet. Beberapa peserta ternyata pergi ke toilet di tengah ujian, tapi aku tidak mau ambil risiko untuk membuang waktuku.

Karena punya bayi, aku sudah jauh hari mengirim email ke panitia untuk didahulukan Speaking test. Keluar ruangan ujian tertulis, panitia sudah menyediakan refreshments di lobi untuk para peserta. Beberapa peserta yang mendapat antrian Speaking terakhir pergi untuk mencari makan siang. Aku pun bersiap untuk bertemu sang interviewer yang ternyata masih sama orangnya dengan yang dulu mengetesku, hiks.

Sebagai informasi, topik Speaking test yang kudapat adalah sebagai berikut:

  • Part 1: Sleep (Berapa jam kamu tidur dalam sehari? Apakah tidur siang itu penting? Apakah orang tua tidur lebih lama daripada anak-anak? dsb)
  • Part 2: Place to Live and Work (Secarik kertas dengan pertanyaan dimana kamu ingin tinggal dan bekerja)
  • Part 3: Self Actualisation (lebih penting mana pekerjaan yang menyenangkan atau tempat tinggal yang nyaman? Apa yang orang cari dari pekerjaannya? Seberapa pentingkah gaji dalam menentukan pekerjaan?)

Sedangkan, topik Writing yang kudapat adalah:

  • Part 1: Pie chart dan table ttg food and clothes expenditure in UK (data nya banyak banget dan itu harus direport semua dg alur yang teratur)
  • Part 2: Most people believe that stricter punishment should be given for traffic offences. To what extent do you agree? (aku pertama langsung ngerjain Part 2 dulu karena bobotnya lebih besar)

Singkat cerita, dua pekan setelah ujian, sebuah paket dari TIKI datang ke rumah mengantar sertifikat asli hasil IELTS (Test Report Form) setelah malam sebelumnya aku sudah mengecek hasil nilaiku di online. Alhamdulillah score mencukupi untuk mendaftar beasiswa maupun kampus yang kuinginkan dengan skor Reading 7, Listening 7, Writing 6, Speaking 6 dan overall 6,5.

Sekian ceritaku, semoga bermanfaat.

KISAH PERJUANGAN IELTS SAMBIL MENGURUS BAYI DAN TANPA LES!

Alhamdulillah, pekan lalu hasil tes IELTS yang sudah kulakukan 3 Februari 2018 lalu sudah sampai di rumah, hasilnya memuaskan, sesuai dengan targetku. Ini artinya aku sudah bisa melamar kampus impianku dan salah satu syarat untuk beasiswa terpenuhi. Suami yang menelfonku dari negeri seberang mengingatkanku untuk bersujud syukur kala tahu perjuangan panjangku akhirnya membuahkan hasil. Ya, kisah perjuanganku untuk mendapatkan hasil ini sungguh tidak mudah bagiku, mungkin untuk sebagian orang ini tes yang tidak sulit. Tapi aku membutuhkan dua kali tes dan memakan waktu hampir setengah tahun untuk bangkit setelah kegagalanku yang pertama. Apalagi dengan jam belajar yang disesuaikan dengan jam tidur bayi, sungguh tidak mudah. Belum lagi aku yang dulu terbiasa ikut les bahasa inggris yang tergolong mahal, kali ini setelah menikah dan punya bayi, aku harus pintar-pintar menabung dan berhemat sehingga akhirnya aku memutuskan untuk belajar mandiri tanpa les. Jika mengingat ke belakang, berkali-kali ingin menyerah dan aku tidak akan bohong kalau sering pula air mata menemani di sepanjang jalan ini.

Inilah kisah perjuanganku selengkapnya….

***

Sejak awal menikah, kami berdua sepakat untuk sama-sama sekolah ke jenjang yang lebih tinggi karena kecintaan kami pada ilmu, insya Allah. Suami akan S3 dan aku juga ingin melanjutkan S2 di luar negeri. Negaranya dimana kami belum tahu, yang pasti siapa yang duluan itulah yang akan menentukan. Qadarullah suami-lah yang lebih dulu mendapatkan kesempatan itu. Sehingga, segera setelah aku lulus, wisuda Februari 2017, aku segera menyusun rencana untuk menyusul. Persiapan untuk sekolah ke luar negeri tentu tidak mudah apalagi singkat, butuh minimal setahun sejak awal persiapan. Banyak syarat yang harus dipenuhi, salah satu yang paling umum adalah tes Bahasa Inggris (IELTS/TOEFL IBT). Aku pun segera mempersiapkan tes di Bulan Agustus 2017. Kala itu, persiapanku tidak begitu matang, kami sedang disibukkan oleh mudik, pulang ke Temanggung, dan liburan. Sungguh waktu yang tidak kondusif bagiku untuk tes IELTS yang daftarnya dadakan hehe.. Masih kuingat saat selama di Temanggung, karena menyesuaikan jam tidur bayi, aku belajar jam 2 pagi di ruang tamu rumah mertua yang luar biasa dinginnya, 16 derajat celcius! Tapi kalau tidak begitu, bisa-bisa aku gagal belajar.

Bahan belajarku saat itu adalah:

  • Unduhan buku Cambridge IELTS yang diprint edisi 1-10
  • Video teaching dari IELTS Liz dan EngVid
  • Video di youtube ttg Speaking sample
  • Lembar jawaban Writing yang diprint (latihan writing sebaiknya di lembar tsb)

Semua tersedia di INTERNET. Selain itu, selagi aku di Jogja, kebetulan ada IELTS prediction test yang diadakan oleh EF dan UGM, gratis, dapat makan siang, dan interviewernya native. Wah, tidak akan ketemu acara yang seperti ini kalau di Bogor. Kalau kata suami, This is Jogja! Jadi, hari itu Fatiha dititipkan ke Bapaknya, selagi Ibu ikut simulasi tes tersebut. Hasil prediksinya menyedihkan, padahal itu adalah seminggu sebelum tes IELTS yang asli akan kuhadapi. Begitu pun saat latihan speaking bersama suami, dia memberikanku banyak komentar perbaikan yang semuanya kalau diakumulasi malah membuatku tambah stress dan down sebelum bertanding. Ya, ini salah satu kesalahanku, seharusnya menjelang ujian adalah waktu untuk me-refresh pikiran.

***

12 Agustus 2017

Hari ujian pun tiba. Tes yang diadakan oleh IALF bekerjasama dengan ILP bertempat di Hotel Arnava. Aku yang grogi saat menjelang ujian malah kebanyakan minum dan ke toilet (sebelum ujian ada registrasi yang berlangsung selama 2 jam). Registrasi yang mencakup foto diri, scan sidik jari, pengecekan ID/passport memang memakan waktu yang lama. Apalagi saat itu aku masih secara eksklusif sebagai ibu menyusui, jadi cepat lapar. Bayangkan, kami harus sudah berada di lobi hotel pukul 7.30 kemudian semua barang bawaan (tas, dsb) dititipkan di lantai 1. Ruang ujian dan registrasi ada di lantai 10. Selama itu sampai nanti siang kami harus siap fisik untuk tetap stabil sepanjang ujian, jangan sampai tiba-tiba perut keroncongan di tengah ujian. Itulah kenapa selama menunggu waktu registrasi aku sibuk minum dan makan permen (entah kenapa aku ini), alhasil meskipun sudah ke toilet sebelum masuk ruang ujian, baru mulai Listening aku sudah ingin ke toilet lagi. Wah kacau banget deh, bikin konsentrasi buyar.

Belum lagi semalam aku memaksa untuk terus belajar speaking. Menyadari banyak topik speaking yang belum dikuasai aku panik, alhasil saat tes speaking pun aku merasa ingin menyerah. Aku masih ingat topik yang kudapat:

  • Part 1: Shoes (ini pertanyaan sejenis, “Kamu lebih suka sepatu yang cantik atau nyaman?”)
  • Part 2: What have you been waiting for? (ttg sesuatu yg sudah lama kamu tunggu)
  • Part 3: Patience (pertanyaan paling bikin aku memutar otak adalah, “Menurutmu apakah kesabaran orang dulu dan sekarang berbeda?”)

Aku yang grogi abis langsung saja menjawab sekenanya, wah pokoknya asal saja menjawab tidak dipikir secar matang. Bahkan ada satu pertanyaan terakhir yang sebenarnya aku tidak paham tapi aku jawab saja dan ini fatal.

Singkat cerita, ada beberapa kesalahan fatal yang kulakukan:

  • kebanyakan minum sebelum ujian
  • tidak bertanya untuk klarifikasi pertanyaan speaking test yang kurang dipahami
  • terlalu keras belajar saat menjelang ujian hanya akan merusak mental dan kepercayaan diri

Hasil IELTS pun rilis setelah dua minggu, aku mendapat overall band score 6 dengan Listening, Reading, Writing 6, dan Speaking 5,5! Nilai ini tidak mencukupi untuk melamar beasiswa yang kuinginkan, yaitu LPDP luar negeri dan Endeavour, juga tidak cukup untuk apply kampus yang kutuju, dimana mereka mensyaratkan minimal overall band score 6,5 dengan tidak ada skor yang di bawah 6.

Akhirnya aku harus belajar lagi.

(bersambung)

Aku dan Palestina

How can I smile, how can water and food taste good to me when Masjid Al-Aqsa is in the hands of the crusaders!” (Salahudeen Al-Ayubi)

Masih teringat dalam memoriku, satu buah film dokumenter yang kutonton bersama Mas Rischan beberapa bulan yang lalu. Kisah dua orang Eropa yang mencoba masuk wilayah Palestina. Mereka bermalam di camp pengungsian para warga Palestina yang terletak di Jordan. Film yang sangat menarik, mereka menyorot pemandangan dari beberapa warga yang telah lama tinggal di sana.

Salah satunya seorang ibu paruh baya yang meskipun tinggal dalam sebuah tenda rumah, namun dia adalah seorang pengrajin kerajinan tangan yang sangat indah. Hatinya kaya, meskipun keadaan tidak banyak mendukungnya. Kemudian dia dengan sedih menceritakan kisah kehilangan sanak saudaranya, suaminya, dan anaknya. Film tersebut juga menceritakan bagaimana mereka para pengungsi mencuci baju, memasak, dan menjalani kehidupannya sehari-hari.

Pada titik ini, aku terperangah dengan semua gambaran kondisi hidup seperti itu. Membayangkan itulah kehidupanku sehari-hari. Tidak akan kuat rasanya menjalani hari-hari seperti itu. Tapi ada seorang anak laki-laki kecil yang dalam cuplikan film tersebut sedang memamerkan hafalan Al-Qurannya di depan kedua orang Eropa tersebut. Itulah kekuatan mereka.

Sungguh, sejak aku punya Fatiha, aku benar-benar bisa merasakan perih ketika melihat anak-anak kecil Palestina bersimbah darah, atau anak-anak Syria yang tewas di pantai, atau anak-anak Rohingya yang kelaparan. 

Benar-benar tidak harus menjadi muslim dulu untuk simpati kepada mereka, hanya cukup menjadi manusia untuk ikut merasakan kepedihan ini. Lalu apa yang bisa kita lakukan?

Aku hanya takut di hari akhir nanti Allah menanyakan apa yang kulakukan ketika saudara seiman kita sedang dihabisi di belahan bumi yang lain. Setidaknya dengan mengirimkan doa, bantuan seikhlasnya, dan kampanye mendukung mereka itu yang bisa dilakukan.

Allahumman shuril mujaahidiina fii Palestin, Rohingya, Syria..